Why bother writing a blog when you have a microblog like twitter? Alasan utamanya sih microblogging cuma bisa muat 160 karakter. Memang di beberapa aplikasi hal ini bisa diakalin. Namun namanya bukan lagi microblogging dong ya, kalo tulisannya sampe beberapa paragraf.
Twitter bagi saya seperti wadah untuk spontanitas pikiran kita saat itu. Kini dan di sini, mengutip salah satu doktrin di OS Jur dulu. Blog lebih merupakan jurnal dari sebuah pengalaman yang pantas diceritakan atau dibaca kembali pada lain waktu. Mungkin isinya bisa tips, lesson learned, hal yang mungkin menarik bagi sebagian orang atau bisa juga cerita lucu.
Salah satu blog dengan penyajian content yang paling menarik bagi saya adalah blog Pak Armein, dosen saya di ITB. Penuturannya singkat, lugas dan bermanfaat. Poin terakhir adalah hal yang penting bagi saya karena saya akhir-akhir ini jarang sekali membaca. Sehingga sayang sekali jika dari bacaannya tidak ada nilai yang bisa diperoleh.
Posted from WordPress for Android
Posted from WordPress for Android