Blog vs twitter

Why bother writing a blog when you have a microblog like twitter? Alasan utamanya sih microblogging cuma bisa muat 160 karakter. Memang di beberapa aplikasi hal ini bisa diakalin. Namun namanya bukan lagi microblogging dong ya, kalo tulisannya sampe beberapa paragraf.

Twitter bagi saya seperti wadah untuk spontanitas pikiran kita saat itu. Kini dan di sini, mengutip salah satu doktrin di OS Jur dulu. Blog lebih merupakan jurnal dari sebuah pengalaman yang pantas diceritakan atau dibaca kembali pada lain waktu. Mungkin isinya bisa tips, lesson learned, hal yang mungkin menarik bagi sebagian orang atau bisa juga cerita lucu.

Salah satu blog dengan penyajian content yang paling menarik bagi saya adalah blog Pak Armein, dosen saya di ITB. Penuturannya singkat, lugas dan bermanfaat. Poin terakhir adalah hal yang penting bagi saya karena saya akhir-akhir ini jarang sekali membaca. Sehingga sayang sekali jika dari bacaannya tidak ada nilai yang bisa diperoleh.

Posted from WordPress for Android

Posted from WordPress for Android

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Terbiasa dibantu

Suatu hal yang dilakukan terus menerus dalam waktu panjang akan menjadi kebiasaan. Bagaimana kalau kebiasaan itu adalah selalu menunggu orang lain untuk membantu?

Kebiasaan ini cenderung melemahkan dan membuat malas. Bagaimana tidak? Ketika suatu kesulitan berlaku, diperlukan semangat dan keinginan dari diri sendiri untuk dapat mengatasinya. Kebiasaan dibantu meniadakan kesadaran diri yang diperlukan untuk membentuk semangat dan keinginan tersebut.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

What is a blog to you?

Apa blog ini diisi dengan tulisan serius?
Atau wadah celoteh segala ungkapan rasa syukur, kesal, marah, senang, sedih, gembira?
Atau sebagai arsip sehingga ketika suatu saat perlu, tinggal cek @ the blog.

Sampai saat ini saya belum tau blog saya mau diisi dengan yang mana dari ketiga pilihan di atas

Posted in Uncategorized | Leave a comment